Daya Saing Tempe

Untuk membuat tempe, bangsa ini ternyata sangat bergantung pada kedelai impor. Maka wajar saja ketika terjadi kenaikan harga kedelai dunia, bangsa ini kelabakan.

Menteri Pertanian Anton Apriantono mengakui adanya ketergantungan ini. Kesalahan yang sudah dilakukan sejak masa lampau, dan baru disadari kini, ketika persoalan muncul. Kenyataan ini menunjukkan kelalaian pemerintah dalam kebijakan ketahanan pangan, sekaligus semakin mempertegas rendahnya daya saing bangsa ini.

Liberalisasi perdagangan telah menjadikan Indonesia sebagai pasar dari produk pangan luar negeri. Kebijakan pangan pemerintah tidak mampu melindungi petani dari persoalan global itu. Ketua Komisi VI DPR Didik J Rachbini berpendapat, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi.

Pemerintah pun bingung menghadapi kondisi ini, hingga akhirnya mengambil langkah praktis mengahapusnya bea impor kedelai dari 5% menjadi 0%. Efektifkah keputusan ini? Belum tentu.

Penghapusan bea impor itu tentu tidak akan signifikan dibandingkan dengan kenaikan harga kedelai impor itu sendiri, dari Rp3.500 menjadi Rp7.500. Para importir yang menguasai pasokan kedelai tentu tidak akan serta merta menurunkan harga.

Penurunan bea impor semakin menunjukkan pemerintah tidak memiliki instrumen meningkatkan ketahanan pangan, khususnya produksi kedelai dalam negeri. Petani masih dihadapkan pada gempuran kedelai impor yang di negeri pengekspornya dikendalikan mekanisme pasar.

Yang dirugikan siapa lagi kalau bukan pengusaha tahu dan tempe, yang membutuhkan kedelai sebagai bahan baku utama. Dari sisi petani pun sama. Sebab, pemerintah terkesan tidak memiliki kebijakan jangka panjang untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Alih-alih meningkatkan produksi, pemerintah lebih mengendepankan liberalisasi perdagangan, sehingga semakin membuat petani semakin tak berdaya.

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan, seharusnya memiliki keberpihakan kepada petani dan pengusaha dalam menekan biaya produksi dan pemasaran produk pertanian. Banyak langkah yang dapat dilakukan, antara lain dengan pemberdayaan produk kedelai dengan melakukan perluasan lahan tanam kedelai. Pemerintah juga diharapkan mampu memberikan stimuli kepada para petani yang selama ini enggan menanam kedelai, karena minimnya keuntungan, menjadi tertarik menanamnya.

Itu baru persoalan kedelai. Patut diingat pula, bangsa ini masih memiliki banyak persoalan terkait ketahanan pangan lainnya. Kemampuan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kini ditantang untuk membuktikan, kebijakan pangan yang dijanjikan mampu bertahan di tengah banyaknya persoalan yang mendera, termasuk bencana alam yang cukup signifikan menghancurkan lahan milik warga.

Dan yang terpenting, pemerintah sepatutnya memiliki kebijakan untuk meningkatkan daya saing pertanian, termasuk kedelai, agar tempe yang merupakan produk asli Indonesia memiliki daya saing di tengah gempuran produk makanan jadi impor.

About these ads

One comment on “Daya Saing Tempe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s