Sebelum Istana berkomentar, opini publik terbagi menjadi dua. Ada yang mendukung Yusril, ada pula yang menganggap laporan Yusril untuk meningkatkan posisi tawarnya, terkait pemeriksaan dirinya oleh KPK dalam kasus pengadaan alat pemindai di Depkeh HAM, tahun 2004 silam.
Tak ingin terjadi kontroversi semakin jauh, Senin 19 Februari, Sudi Silalahi dan Andi Mallarangeng yang notabene all the president man memberikan penjelasan. Namun, penjelasan ini justru memojokkan Yusril. Ini menjadi tanda tanya besar, apakah Yusril tidak lagi diperhitungkan, sehingga Istana dengan mudahnya memojokkan politisi flamboyan itu.
Selama ini Yusril adalah sosok yang cukup diperhitungkan banyak kalangan, termasuk Presiden Yudhoyono. Bagaimana tidak, dengan modal partainya yang tidak lolos electoral treshold, Yusril bisa masuk ke dalam kabinet. Kader Partai Bulan Bintang (kini Partai Bintang Bulan) MS Ka’ban bisa masuk juga.
Sebagai politisi, Yusril dikenal sebagai sosok yang banyak makan asam garam. Dia sempat digadang maju menjadi capres dalam Sidang Umum MPR 1999. Namun dukungan Yusril justru lari ke Gus Dur. Dia selalu bisa masuk ke lingkungan nomor satu di negeri ini, sejak masa Soeharto, hingga SBY.
Reaksi Yusril kali ini terkesan seperti cara orang-orang terpojok untuk menyelamatkan diri. Serangan balik yang dia lakukan seolah ingin menggertak, agar lawannya tidak menyerang lebih jauh, atau akan mendapatkan serangan balik. Ya, Yusril merasa memiliki amunisi untuk menyerang balik.
Namun apa daya, Istana tak ingin orang nomor satu di negeri ini dipersoalkan, lantaran dianggap tidak konsisten dalam menegakkan sistem. Seskab Sudi Silalahi buru-buru menegaskan yang dilakukan SBY adalah tepat, apalagi didasarkan pada rekomendasi Yusril.
Hari ini, Selasa (20/2/2007), Yusril kembali muncul ke publik, setelah sehari sebelumnya menghilang. Anehnya, klarifikasi yang disampaikannya bertolak belakang dengan reaksi sebelumnya. Klarifikasi damaikah, untuk sekadar mengakhiri konflik yang akan semakin melebar?
Meski telah mengibarkan bendera putih, belum tentu Yusril akan selamat. Apa yang dilakukannya beberapa hari lalu telah menjadi catatan merah buatnya. Karena nyanyiannya, terbongkarlah adanya rahasia negara, dalam hal ini adanya alat penyadap milik KPK. Pihak-pihak yang selama ini merahasiakannya, tentu saja akan merasa dongkol. Jelas menjadi pertanyaan, ada apa dengan Yusril?
Persoalan ini tentu akan menjadi tantangan bagi KPK, apakah akan tetap berani melanjutkan pemeriksaan dalam kasus korupsi proyek AFIS yang terjadi di Depkeh, saat Yusril masih menjabat.
(ditulis 20 februari 2007)





